SELAMAT DATANG.


Ingin ikut menulis diblog ini, sertakan alamat email Anda.
Artikel Anda akan diupload di blog ini.
Terima Kasih telah berkunjung.

(Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, "Orang yang menyantuni janda dan orang miskin adalah bagaikan orang yang berjihad fi sabilillah bahkan seperti orang yang tidak pernah berhenti puasa dan bagun shalat malam."
(Bukhari - Muslim)
"


Tampilkan postingan dengan label Kisah Tamu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Tamu. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Maret 2016

Kewajiban Suami & Istri

1. Antara suami dan istri punya hak dan kewajiban, dan suami atau istri yang paling baik yang tidak banyak menuntut hak akan tetapi konsekwen melakukan kewajiban, karena manakala seorang telah melakukan kewajiban dengan baik dan tekun, maka pihak yang berkewajiban memberi hak pasti akan lebih memperhatikan
2. Diantara kewajiban suami adalah
a. Mendidik dan memberi ilmu kepada istri
b. Memberi contoh dengan contoh yang baik
c. Memberi nafkah yang cukup
d. Menjadi imam atau pemimpin bagi keluarganya
e. Mencintai menghargai dan menghormati istri dengan sepenuh hati
f. Membiayai hidup keluarga dari yang halal dan thoyyib dan lain-lain
3. Dan diantara kewajiban istri kepada suami adalah
a. Hormat dan patuh atau nurut kepada perintah suami, tentunya pada hal-hal yang tidak bertentangan dengan norma agama
b. Siap melayani suami kapanpun jika dibutuhkan suami
c. Wajib menjaga dan mengatur lintasan keuangan keluarga
d. Wajib menjaga harga diri suami, bahkan kalau suami tidak ada dirumah tidak boleh menerima tamu yang tidak izin suami
e. Kemanapun ia pergi walau pergi ke tempat pengajian, tetap harus meminta dan mendapat izin suami
f. Wajib memberikan kepuasan kepada suami baik dalam hal penampilan, masakan dan makanan, bahkan seksual

Allah mengetahui segalanya

Smoga bermanfaat.

READ MORE - Kewajiban Suami & Istri

Sabtu, 05 Januari 2013

Mantan Perwira Polisi Amerika Serikat Masuk Islam

Bila Allah ta'ala menghendaki, Allah Ta'ala akan membuka hati seseorang untuk berlapang dada menerima islam. Dan tak ada yg dapat menghalangi kehendak Allah Ta'ala.
Hidayah Islam telah menyapa seoirang wanita yang memiliki pekerjaan sebagai perwira polisi di negara adidaya Amerika Serikat di detroit. Dalam sebuah wawancara di youtube pada September 2011, ia menceritakan bagaimana ia memeluk Islam. Berikut adalah kisah singkatnya.
***
Assalamu'alaykum, Namaku Raquel. Aku masuk Islam sepekan yang lalu. Aku adalah seorang perwira polisi di kota Detroit. Aku bekerja di sana dari 1996 hingga 2004, dan aku ditembak pada tahun 2002. Aku ditembak ketika sedang bekerja pada pekerjaan itu. Aku hampir meninggal dan aku tahu bahwa aku memiliki sebuah awal baru dan sebuah hidup baru.
Aku agaknya tidak tahu bagaimana untuk mengikuti Tuhan. Aku hanya tidak tahu agama apa untuk diyakini hingga aku bertemu beberapa teman Muslim yang benar-benar berbicara padaku dan menjelaskan banyak hal kepadaku. Hal itu sangat mengubah hidupku dan aku tidak takut mati lagi.
Satu-satunya hal adalah kita untuk takut kepada Allah dan kita tidak pernah tahu kapan hari berikutnya bagi kita, jadi lebih baik kita mengatakan Syahadat sekarang dan memiliki iman itu, karena hanya ada satu Tuhan, dan aku tahu itu.
Aku benar-benar hampir mati, dan jika aku telah mati pada hari itu, aku tidak tahu apakah aku akan pergi ke Neraka atau tidak. Tetapi sekarang, aku telah memiliki kepercayaan diri dan kedamaian serta kebahagaian yang aku tahu kemana aku akan pergi jika sesuatu terjadi padaku hari ini.
Sebelum aku menjadi Muslim, aku benar-benar tidak memiliki pendapat yang kuat sejauh ini tentang umat Islam. Aku bukan seorang yang pro-Muslim atau anti-Muslim atau apapun semacamnya. Aku selalu menjadi tipe orang yang seperti itu, aku benar-benar open-minded (berpikiran terbuka). Dan itu adalah satu hal yang sangat berbeda tentangku dari keluargaku, bahwa aku sangat open-minded dan aku menghormati orang-orang atas apa yang mereka yakini.
Aku sebenarnya marah dalam pekerjaanku sebagai seorang polisi karena orang-orang menyerang Muslim di Detroit atas kesalahan yang tidak ada alasannya sama sekali, terutama setelah serangan 9/11.  Dan itu sangat menyakiti hatiku untuk melihat semua ini dan benar-benar setelah itu aku menjadi sangat tertarik dengan keyakinan Islam setelah 9/11 karena aku sangat terganggu oleh hal-hal yang aku lihat sebagai petugas polisi di jalanan. 
Menjadi Seorang Muslim Baru di Las Vegas
Raquel yang kemudian tinggal di Las Vegas sebagai seorang Muslim yang baru, berusaha untuk mempelajari Islam lebih dalam dan berusaha menunjukkan sikap baik seorang Muslim.
Aku di sini di Las Vegas di Masjid ku dan aku memberikan beberapa pakaian kepada orang-orang yang membutuhkan. Apa yang kita lakukan adalah hanya meninggalkannya di atas meja untuk mereka dan mereka datang serta berharap mereka dapat mendapatkan sesuatu yang mereka sukai. Jadi aku hanya pergi untuk meninggalkan pakaian-pakaian untuk lingkungan sekitar dan mereka dapat mengambil apa yang mereka butuhkan, dan berharap ada beberapa sweater yang bagus di sini yang mereka dapat gunakan karena di Vegas cukup dingin.
Sebagai seorang wanita yang baru saja menjadi Muslimah sepekan (ketika itu), Raquel masih belum lancar mengucapkan do'a-do'a atau surat yang harus ia baca ketika shalat. Sehingga ia membaca dari kertas apa-apa yang harus ia baca (yang telah ia salin ke dalam tulisan latin) ketika shalat. Ia hanya belajar melalui internet dengan mendengarkan audio, kemudian ia mencari kalimat yang bertuliskan latin dan terjemahan bahasa inggris. 
Aku tahu bagi beberapa orang mungkin berkecil hati untuk belajar bahasa baru. Pada dasarnya ini adalah sebuah budaya. Ini (Islam) bukan hanya sekedar agama, ini adalah jalan hidup. Bagiku, ini tidak menakutkan. Hanya saja bahwa aku ingin belajar lebih cepat dan aku ingin bisa melakukannya sendiri. Tetapi sulit karena aku di rumah sendiri dan aku belajar hampir semuanya melalui internet, bahkan bagaimana aku mengikat (memakai) kerudungku dan segalanya. Aku harus belajar semuanya sendiri. Tetapi ini telah menjadi pengalaman sangat indah dan ada banyak kedamaian padanya dan banyak kebahagiaan yang kalian tidak pernah pelajari dan mendapatkannya. ini adalah sebuah pengalaman yang luar biasa! 
Aku sepenuhnya tahu bahwa aku melakukan hal yang benar. Aku telah mempertimbangkannya selama dua tahun. Aku memiliki banyak teologi dan pengetahuan tetapi aku belum pernah mengalaminya. Akut tidak pernah pergi ke sebuah Masjid dan tidak juga berpengalaman, tetapi aku memiliki banyak teman Muslim dan bahkan aku memilik seorang teman kerja Muslima di pasukan kepolisian yang menjelaskan (tentang Islam) banyak kepadaku.
Dalam video itu, Raquel melakukan sholat dengan membaca bacaan-bacaan sholat dengan masih terbata-bata, namun ia terlihat menikmatinya.
Ketika aku sholat, meskipun aku tidak begitu mengerti do'a-do'a itu, apa yang aku lakukan ada di internet, aku mengetahui beberapa situs di mana setelah ada bahasa Arabnya, aku akan mendapatkannya dalam bahasa Inggris (tulisan latin) juga. Jadi aku akan membacanya dalam versi Inggris (maksudnya dalam tulisan latin -red) dan ini begitu kuat dan aku merasa dilindungi, dan aku tahu bahwa di dunia ini tidak ada yang harus aku takutkan kecuali Allah. Sangat menyenangkan. Ini baru dalam hidupku dan aku baru saja mengenal kedamaian dan sebuah kebahagiaan baru yang datang padaku.
Hal yang paling utama yang aku sukai tentang Islam adalah aku benar-benar tertutup (menutup tubuh), aku lakukan. Jujur saja aku benar-benar menikmatinya, terutama di sini di Las Vegas karena para pria melihat kepada wanita dengan sangat menyeramkan dan aku benar-benar merasa aman. Satu hal lainnya yang aku suka adalah bahwa aku belajar banyak. Aku belajar banyak dan aku senang belajar. Dan aku selalu yakin bahwa kehidupan adalah sebuah pengalaman belajar. Dan aku sangat mencintai tentang ini (Islam), aku belajar sesuatu yang baru setiap hari. 
Ada banyak kedamaian dan banyak kebahagaiaan yang aku tidak pernah rasakan sebelumnya.
Sumber : arrahmah.com 
READ MORE - Mantan Perwira Polisi Amerika Serikat Masuk Islam

Jumat, 17 Agustus 2012

Saudara Yang Terabaikan

Sebenarnya saya sudah sering bertemu dengan wanita dan anak gadis kecilnya itu. Baik saat menunggu di halte ataupun di dalam bis yang biasa saya naiki menuju Tsukuba Center. Seingat saya, wanita itu selalu memakai sari (pakaian khas wanita di negara-negara Asia Selatan) yang dilengkapi selendang lebar dengan warna yang senada motif pakaiannya. Kemungkinan mereka berasal dari salah satu negara yang ada di Asia Selatan.
Pagi itu, kembali saya bertemu mereka di halte bis. Di situ hanya ada saya, wanita dan gadis kecil itu. Saya sapa mereka dengan anggukan kepala tanpa kata ataupun salam. Sebelumnya saya juga selalu berlaku demikian. Ada keraguan, muslimkah mereka? Mengingat negara-negara di Asia Selatan juga banyak yang beragama non-muslim.
Gadis kecil dan ibunya bercakap-cakap dengan bahasa yang sama sekali tidak saya pahami. Mereka tidak menggunakan bahasa Jepang ataupun Inggris. Mereka bercakap-cakap sambil sesekali melirik ke arah saya. Sepertinya mereka membicarakan saya. Hanya saja saya tidak bisa mengerti apa isi pembicaraan mereka.
Tiba-tiba wanita itu bergerak mendekati saya. Langkahnya terlihat ragu-ragu namun gadis kecil itu terus mendorong ibunya agar semakin mendekat.
“Maaf, anak saya ingin tahu anda berasal dari mana?” Dia bertanya dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.
“Dari Indonesia. ” Jawab saya sambil tersenyum kepada mereka.
“Dan anda dari mana?”
“Pakistan. ” Jawabnya singkat.
Wanita itu menterjemahkan jawaban saya kepada anaknya. Mereka kembali terlibat percakapan dalam bahasa yang tidak saya pahami tadi. Mungkin mereka menggunakan bahasa dari negara asalnya. “Anak saya bilang bahwa sebelumnya dia pernah melihat anda sewaktu di masjid. ”
Plak!. Ucapannya yang tenang itu terasa seperti tamparan ke wajah saya. Ke mana saja saya selama ini? Apa saja yang saya kerjakan? Sampai-sampai saya tidak mengenal mereka. Padahal muslim yang tinggal di Tsukuba masih sedikit (dibanding kota lainnya di Jepang). Seharusnya lebih mudah untuk mengingat wajah-wajah saudara seiman walaupun kadang tidak selalu ingat akan namanya. Wajarlah kalau gadis kecil itu mengenal saya.
Mereka juga muslim yang berarti saudara seiman dengan saya. Tak sepantasnya saya mengabaikan mereka. Bahkan ucapan salam pun belum sempat terucap dari bibir saya. Astaghfirullah …..
Ternyata kepekaan terhadap orang-orang yang berada di sekitar saya, masih kurang. Allah SWT telah mengingatkan saya lewat gadis kecil dan wanita itu. Melalui mereka, saya juga diingatkan kembali bahwa setiap muslim itu bersaudara. Saudara yang berhak mendapatkan salam ketika saya menjumpainya. Sama haknya seperti saudara-saudara seiman lainnya tanpa terhalang oleh suku dan asalnya.
Wallahu’alam bisshowab.

Sumber : Shinta Octaviani

READ MORE - Saudara Yang Terabaikan

Rabu, 15 Agustus 2012

Tangan Sang Anak

Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si Bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!”
Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar.. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya.
Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan “Saya tidak tahu..tuan.”
“Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik … kan !” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.
Si Ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya. Si Anak yang tak mengerti apa apa menangis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, Si Ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si Ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa. Si Ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan Si Anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu Si Pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si Ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab Bapak Si Anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si Ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, Si Ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara Si Ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah.
“Dita demam, Bu”, jawab pembantunya ringkas.
“Kasih minum panadol aja ,” jawab Si Ibu.
Sebelum Si Ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas.
“Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya Si Anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu.
“Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut.
“Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si Bapak dan Ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si Ibu meraung merangkul Si Anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, Si Ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, Si Anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, Si Anak bersuara dalam linangan air mata.
“Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah.. sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan Si Ibu gagal menahan rasa sedihnya.
“Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?… Bagaimana Dita mau bermain nanti?…. Dita janji tidak akan mencoret2 mobil lagi, ” katanya berulang-ulang.
Serasa hancur hati Si Ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya Si Anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…
Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yang tak bertepi…, Namun…., Si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..

Sumber : sahabat
READ MORE - Tangan Sang Anak

Selasa, 24 April 2012

Sesosok Lelaki Sempurna

Entahlah, kami belum mengetahui mengapa si Bandi, tetangga kami betah dengan tanpa memiliki status pekerjaan apapun. Sebelumnya telah bertahun-tahun lamanya si Bandi ini menjadi pengangguran, mungkin faktor usia yang sudah tidak bisa lagi mengajukan lamaran pekerjaan, mengingat usianya telah di atas angka empat puluhan.
Dahulu ia bekerja sebagai seorang Satpam atau petugas keamanan di sebuah pabrik dekat rumahnya. Namun karena pabriknya terkena dampak krisis global, diapun bersama ratusan karyawan lainnya di PHK. Kira-kira dua tahun yang lalu istrinya sudah tidak bekerja lagi di suatu pabrik sebagai buruh biasa. Jadilah keduanya hidup tanpa ada penghasilan apapun.

Setahun pasca tidak bekerjanya sang istri, uang pesangon yang pernah didapat nyatanya habis. Aku tahu, jika sang istri merasa berat menghadapi hidup ini, tubuhnya kini kurus tak seperti dulu lagi sangat jauh sekali berbeda pada waktu ia dulu masih bekerja. Aku sampai salut kepada sang istri itu. Bagaimana ia bisa memiliki hati yang sungguh luar biasa sabarnya menemani sang suami yang tak punya penghasilan sedikitpun. Sama sekali tak ada usaha apapun dari suaminya untuk mencari nafkah. Tak heran jika ada saja para tetangga kami membicarakan suaminya itu.

Beberapa bulan kemudian kami mendapat tetangga baru. Istrinya masih bekerja sebagai guru sekolah dasar di jakarta. Sedang Pak Rafli, suaminya telah pensiun. Mungkin karena sama-sama tak punya kegiatan, akhirnya mereka bagaikan sepasang sahabat. Mereka menjadikan siang sebagai malam, dan malam sebagai siang. Jika pagi sampai sore mereka tidur. Sedang malamnya mereka malah asyik ngumpul di depan rumah. Kami sebagai tetangganya pernah merasa terganggu, pasalnya saat malam-malam mereka membuat beberapa kursi untuk tempat duduk ngobrol mereka. Suara palu dan potongan gergaji mereka sangat jelas terdengar oleh kami yang berada di kamar dekat depan rumah hingga anakku yang masih balita sangat sulit tidur. "Ah,... apakah mereka tak bisa melakukannya pada siang hari ?" aku hanya bisa memerangi batinku.

Suatu saat Pak Rafli memberikan ide untuk membuat sebuah gerobak sebagai pengais rezeki untuk Pak Bandi. Setelah gerobak itu jadi, Pak Bandi beserta istri hanya berjualan gorengan di depan rumahnya. Pembelinya hanya para tetangga-tetangga kami, itupun mungkin didampingi oleh rasa kasihan. Pernah suatu kali aku menyarankan kepada istrinya agar Pak Bandi berjualan di depan sekolah yang tidak jauh dari rumah kami. Namun, istrinya membantah dengan alasan berat membawa gerobak ke sana. Aku tidak mengerti apakah istrinya sedang membela suaminya atau memang pribadi Pak Bandi. Pikirku, aku baru melihat seorang sosok laki-laki yang masih sempurna physiknya, tapi benar-benar tak punya hasrat untuk berusaha mencari nafkah, apapun bentuknya.

Lagi-lagi aku terpukau saat melihat istrinya membawa baskom berisi gorengan yang dijajakan sambil berjalan di sepanjang jalan RW kami. Kemana suaminya ? Ah, ternyata suaminya tengah asyik bermimpi dengan berselimut sebuah kain sarung di rumahnya. Bukankah seharusnya ia mampu mendorong gerobaknya di dekat sekolah atau di dekat keramaian orang ? Banyak yang geram dengan kelakuan Pak bandi ini, terutama para ibu-ibu di tempat kami tinggal. Mereka merasa kasihan kepada istri pak Bandi, kenapa pak Bandi yang nampak masih gagah tak mau menolong istrinya mencari nafkah.

Namun nyatanya gerobak itu kini tengah menjadi barang tak berarti, ia hanya diam bersandar di depan rumah Pak Bandi. Sungguh sangat disayangkan jika ide baik dari pak Rafli nyatanya hanya menjadi angan-angan belaka. Padahal, bila saja Pak Bandi mau membawa gerobak itu ke tempat keramaian, mungkin akan ada tambahan uang yang di dapat untuk menghidupi keluarganya.

Mereka kini hidup dengan berharap belas kasih dari kami para tetangganya. Saudara istrinya dengan sukarela dan baik hati memberikan rumahnya untuk ditinggali. Pun setiap bulannya, meski terbesit rasa kekecewaan terhadap suami adiknya itu, ia tak pernah lupa pada saudaranya yang kesulitan itu.Sudah beberapa bulan ini, anak sulungnya telah lulus dari STM. Mungkin rezeki belum berpihak kepadanya, hingga kini belum ada panggilan pekerjaan untuknya. Sudah beberapa kali lamarannya ditolak. Sudah pasti keluarga itu berharap anak sulungnya bisa menjadi tulang punggung bagi keluarga itu.

Sungguh hidup ini mungkin nampak keras namun harusnya kita perjuangkan dengan sekuat hati dan jiwa . Dan mungkin hidup ini akan nampak selembut sutera, jika kita mampu saling berbalas kasih kepada pasangan kita.

Sumber : "http://kembanganggrek2.blogspot.com/"
READ MORE - Sesosok Lelaki Sempurna

Jumat, 16 Maret 2012

Kisah Pengusaha Yang Bertobat

Dikisahkan ada seorang pengusaha kaya yang tampak bahagia. Uang bukan masalah baginya. Usahanya maju, dia jarang rugi, hampir semua bisnisnya mendatangkan keuntungan berlipat. Seakan-akan, uang itu mengejar-ngejar dirinya.

Dia pun memiliki istri yang cantik, anak-anak yang sehat dan lucu. Akan tetapi, di balik kesuksesannya itu ada banyak perilaku buruk yang dia lakukan. Pengusaha ini gemar melakukan maksiat.

Karena berkantong tebal, dia dengan mudah bisa bergonta-ganti pasangan alias main perempuan, melakukan kecurangan dalam bisnis, mengonsumsi makanan dan minuman haram, dan beragam kemaksiatan lainnya.

Sampai suatu ketika, dia mengalami sebuah peristiwa yang mengubah hidupnya. Anaknya yang berusia tiga tahun meninggal dunia karena kecelakaan yang disebabkan keteledoran dirinya. Peristiwa itu membawa perubahan dalam dirinya.

Dia bertobat dan bertekad untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang biasa dia lakukan. Dia pun mulai belajar melakukan shalat, pergi ke masjid, melaksanakan puasa Ramadhan, dan sebagainya.

Di tengah upaya perbaikan diri itulah, krisis moneter yang menghantam pada tahun 1998 telah membawa perubahan drastis dalam bisnisnya. Perlahan, tetapi pasti, dia mengalami kebangkrutan. Satu per satu perusahaan miliknya gulung tikar dan berpindah tangan.

Utangnya membengkak sehingga tabungan dan depositonya di bank serta properti dan kendaraannya habis untuk menutupi utang-utangnya itu. Jika sebelumnya kata "gagal" dan "rugi" seakan menjauh darinya, sekarang kedua kata itu seakan lekat dengannya.

Jika sebelumnya gelimang rupiah demikian mudah dia dapatkan, sekarang uang recehan pun seakan enggan mendekat kepadanya. Telah berkali-kali, dia mencoba bangkit, merintis kembali bisnisnya, tetapi berkali-kali pula dia gagal. Tumpukan emosi negatif seakan tumpah ruah di otaknya.

Dalam kesulitan hidup yang mengimpit tersebut, dia mempertanyakan keadilan Tuhan. Saat tenggelam dalam kemaksiatan, begitu mudahnya rezeki didapat, tetapi setelah meninggalkan kemaksiatan, rezeki pun ikut meninggalkan dirinya.

"Apakah ada yang salah? Ke mana doa-doa yang selama ini dia panjatkan? Apakah Tuhan tidak mendengar atau tidak sudi mengabulkan doaku? Bukankah Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang serta akan mengabulkan doa-doa dari setiap hamba-Nya?"

Begitu keluhnya. Memang, di tengah kesulitan itu, kuantitas ibadah semakin berlipat-lipat. Namun, itu semua seakan belum cukup untuk mengembalikannya pada "kehidupan normal".

Berkali-kali, dia mendatangi ustaz dan kiai untuk meminta doa dan nasihat. Saat diberi doa atau amalan tertentu, dia akan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Namun, lagi-lagi semuanya berakhir dengan kekecewaan. Dia pun mulai meragukan para kiai dan ustaz tersebut yang katanya hanya pandai berteori. Mana buktinya?

Di ambang keputusasaan, pertolongan Allah pun datang melalui salah seorang kenalannya. Dia adalah seorang dosen agama di sebuah perguruan tinggi ternama. Dosen itu tidak membawakannya uang, menawarkan kerja sama bisnis, atau hal lain yang bersifat materi.

Namun, dia membawa nasihat yang mampu mengubah paradigma berpikir mantan pengusaha kaya ini. Tidak banyak dalil yang dia ungkapkan. Dia hanya memberikan analogi dan perlambang saja. Katanya,

___"Seseorang tidak bisa mengisi botol penuh kecap dengan air putih, sebelum kecapnya dibuang terlebih dahulu. Baru setelah itu, kita bisa memasukkan air putih. Itu pun masih ada sisa-sisa kecap yang belum terbuang sehingga air yang kita masukkan masih akan bercampur dan berwarna hitam. Air itu harus dibuang lagi sehingga botol benar-benar bersih dari kecap. Baru setelah itu, air yang kita masukkan benar-benar bening karena tidak tercampur lagi dengan kecap.___

___Analoginya, kecap itu adalah harta yang kita miliki dan air putih itu adalah doa dan amal ibadah yang kita lakukan. Antara maksiat dan kebaikan tidak akan mungkin bisa bersatu. Karena itu, ketika seseorang ingin menyucikan dirinya, semua kotoran yang ada dalam diri dan harta harus dibuang dan dibersihkan.___

___Ada banyak skenario Tuhan untuk 'membersihkan' harta seseorang sehingga harta kotor yang dimilikinya benar-benar terkuras, mungkin dibangkrutkan usahanya, kena tipu, dan sebagainya. Andaipun semuanya sudah terkuras, boleh jadi masih ada kotoran yang masih tersisa dalam diri dan harta. Allah Swt. akan meinbersihkannya dengan penyakit, musibah, atau lainnya, sembari dia menahan rezeki dari orang itu. Nah, ketika dia sudah benar-benar bersih, Allah Swt. akan membukakan jalan rezeki yang halal kepadanya. Yang jadi masalah, apakah kita sabar atau tidak dalam proses pembersihan itu?"___

Nasihat ini mampu menjawab pertanyaannya selama ini tentang keadilan Tuhan, tentang ijabah doa, tentang makna pertobatannya. Allah Ta'ala. mengambil sebagian besar kekaya-annya bukan karena Allah benci, melainkan Allah amat sayang dan cinta kepada hamba-hamba-Nya yang bertobat.

Sebabnya, bagaimana mungkin mengisikan nasi dan sup yang lezat ke dalam mangkuk yang blepotan dengan kotoran. Tentu sangat bijak jika mangkuk itu dibersihkan terlebih dahulu. Begitu pula qada Allah, sebelum menuangkan limpahan rahmat dan ampunan-Nya, dia akan membersihkan orang tersebut dari jelaga kemaksiatan yang masih hinggap dalam diri dan hartanya.

Beberapa tahun berlalu, mantan pengusaha kaya ini sudah berada kembali di jalur kesuksesan bisnisnya. Walau belum sesukses dahulu, tanda-tanda ke arah itu sudah mulai terlihat di hadapannya. Ibaratnya, dia tengah mengisi botol nasibnya dengan air putih keberhasilan setelah dia menumpahkan hitamnya air kemaksiatan.

Rentetan kegagalan dalam bisnis telah membawa perubahan positif dalam diri pengusaha ini walau sebelumnya dia nyaris jatuh pada keputusasaan.

Filosofi botol kecap yang disampaikan temannya telah membuka sudut pandang baru terhadap makna ujian dan makna hidup yang sebenarnya.

Dalam bahasa manajemen, pengusaha ini telah mengalami reinventing atau menemukan kembali tujuan hidupnya.

Dalam Al Qur'an, ada sebuah pertanyaan, fa aina tadzhabun? Ke mana engkau hendak pergi? Satu pertanyaan yang dilontarkan kepada Nabi Ibrahim seperti tertera dalam QS At Takwir, 81: 26.

"Maka ke manakah kamu akan pergi?"

Jawabannya ada dalam QS Ash Shaffat, 37: 99, "Dan dia (Ibrahim) berkata, 'Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, dia akan memberi petunjuk kepadaku.'" Artinya, Nabi Ibrahim menemukan kembali Allahnya di situ.

___Segera bertobat dari suatu dosa merupakan fardu yang harus segera dilakukan dan tidak boleh ditunda-tunda. Barang siapa menangguhkannya, dia telah berbuat maksiat. Jadi, jika dia bertobat dari dosa, masih ada tobat lain, yaitu tobat dari menunda-nunda tobat.___ (Ibnul Qayyim Al Jauziyah)
READ MORE - Kisah Pengusaha Yang Bertobat

Jumat, 02 Maret 2012

Belajar dari Burung

Bismillah ... “Waaah, disini masih banyak burung ya ki………..” Kata Mauala, yang tengah duduk beristirahat digubuk ditengah ladang.

“Ya Nak, sengaja aki membiarkan pepohonan itu, agar populasi hewan disini, terutama burung-burung itu, tetap lestari………” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, ditempat-tempat lain, sekarang sudah jarang dijumpai burung-burung bebas beterbangan seperti disini……….” Kata Maula.

“Kadang Aki malu pada burung-burung itu Nak Mas……………….” Kata Ki Bijak.

“Malu pada burung ki…..?” Tanya Maula keheranan.

“Iya Nak, coba Nak Mas pikirkan, burung-burung itu sama sekali tidak punya cadangan makanan disarangnya, kemudian burung-burung itu juga tidak punya pekerjaan tetap, burung-burung itu tidak punya kantor, tidak punya saham apalagi memiliki perusahaaan………..” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki……………..?” Tanya Maula penasaran.

“Dengan kondisi yang serba tidak punya itu, burung-burung tidak pernah merasa khawatir bagaimana mereka makan, bagaimana mereka bisa menghidupi anak-anaknya, tidak pernah resah esok makan apa, mereka menjalani kehidupannya dengan penuh keyakinan bahwa Allah-lah yang menjamin rezeki kepada setiap mahluk-Nya……….” Kata Ki Bijak.

“Burung tidak pernah resah hingga tidak bisa tidur misalnya, burung tidak pernah panik karena tak punya tabungan misalnya, mereka, dengan berbekal keyakinan kepada Allah, terbang dari sarangnya setiap pagi untuk mengais rezeki yang telah dipersiapkan Allah untuk mereka, dan seperti Nak Mas lihat, burung-burung itu, mereka sehat dan tidak kekurangan apapun…………..” Kata Ki Bijak.

Maula mulai tertarik untuk mengamati burung-burung yang datang dan pergi, hinggap dipucuk pepohonan, mereka nampak cantik dan anggun, bertengger sambil berkicau riang……

“Coba Nak Mas bandingkan dengan kehidupan kita, kita punya pekerjaan tetap, kita mempunyai penghasilan tetap, dirumahpun kita memiliki persediaan makanan minimal untuk satu minggu kedepan, tabungan pun kita masih memilikinya, bahkan banyak diantara kita yang memiliki saham dan perusahaan sendiri, tapi tengok kehidupan kita, hampir setiap hari kita dihinggapi perasaan tidak puas dengan pekerjaan dan penghasilan kita, hampir setiap hari kita dijangkiti rasa khawatir kalau persediaan kita habis, hampir setiap hari kita selalu dipusingkan dengan keinginan untuk menambah penghasilan, sehingga ketika pulang sore hari hingga menjelang tidur, mata kita sulit terpejam, sehingga ketika pagi tiba, tubuh dan pikiran kita pun lelah tak karuan, uring-uringan dan lain sebagainya, apa yang kurang pada kita……………?” Kata Ki Bijak.

Maula tertegun, menyadari kebenaran ucapan gurunya, karena ia pun kerap merakan hal yang sama seperti yang diucapkan gurunya, ia kerap merasa bingung meskipun baru sehari yang lalu gajian, ia pun kerap merasa resah meskipun persediaan makanan masih berkecukupan, ia pun kerap merasa khawatir dengan hari esok yang belum pasti dan masih dalam khayalan………..;

“Iya ya ki, Apa yang kurang dari kita ………?” Kata Maula setengah bertanya.

“Yang kurang dari kita adalah keimanan dan keyakinan kita terhadap kebenaran janji Allah, bahwa Allah-lah yang menjamin rezeki seluruh mahluk-mahluk-Nya………..” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas perhatikan firman Allah berikut” Kata ki Bijak menguti firman Allah dalam surat Huud:6

6. Dan tidak ada suatu binatang melata[709] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya[710]. semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

[709] yang dimaksud binatang melata di sini ialah segenap makhluk Allah yang bernyawa.

[710] menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan tempat berdiam di sini ialah dunia dan tempat penyimpanan ialah akhirat. dan menurut sebagian ahli tafsir yang lain maksud tempat berdiam ialah tulang sulbi dan tempat penyimpanan ialah rahim.

“Semut yang berada didalam bumi paling bawah, ikan yang berada didasar laut yang paling dalam, beruang yang berada dikutub, kuman yang terkecil sekalipun, gajah dilebatnya hutan sekalipun, dan apalagi kita manusia, tidak ada satupun yang luput dari Allah, dan pasti mereka mendapatkan jatah rezeki dari Allah……..”Kata Ki Bijak.

“Apa yang harus kita lakukan agar kita bisa seperti burung-burung yang senantiasa riang, tanpa terlalu dipusingkan oleh urusan dunia yang berlebihan, ki………..’Tanya Maula.

“Berlakulah seperti burung-burung itu Nak Mas, yang pertama yang harus kita miliki adalah pondasi keimanan yang benar, bahwa Allah-lah yang menjamin rezeki kita, bukan atasan, bukan pula perusahaan, untuk itu jika kita berkerja, bekerja-lah untuk Allah saja, bukan semata demi gaji, bukan semata karena ingin dipuji, lillahita’ala, insya Allah,kita akan lebih rileks dan ringan menjalani kehidupan kita……….” Kata Ki Bijak

“Yang kedua,”terbanglah” setiap hari untuk menjemput rezeki kita, jangan malas, jangan bermimpin bahwa rezeki datang dari langit, sementara kita hanya berpangku tangan, karena kita masih berada dialam ihtiar, maka sempurnakan ihtiar kita, kemudian serahkan hasil ihtiar kita sepenuhnya kepada Allah …..”Kata Ki Bijak

“Yang ketiga, perkayalah diri kita dengan sikap qana’ah, rasa kecukupan, terlepas dari berapa pun yang kita dapatkan dari ihtiar kita, insya Allah, kita tidak lagi akan menanggung beban yang terlalu berat akibat keinginan kita untuk mendapatkan hasil yang berlebihan……….” Kata Ki Bijak lagi.

“dan jangan lupa, pandai-pandailah bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita, jangan menggerutu, jangan mengeluh, karena sesungguhnya Allah telah memberi kita jauh lebih banyak dari apa yang kita minta……..” Kata Ki Bijak.

“Lebih banyak ki…..?Tanya Maula.

“Ya, pemberian Allah kepada kita jauh melebihi apa yang kita minta,kesehatan yang hampir tak pernah kita minta, Allah telah memberinya, kelengkapan jasmani kita, tangan kita, mata kita, kaki kita dan lainnya, adalah pemberian Allah yang kita tidak pernah memintanya, tapi Allah telah memberikan semua itu sebagai modal kita untuk mengabdi kepada-Nya…….”Kata Ki Bijak.

“Allah-pun telah memuliakan kita melebihi kemulian yang diberikan Allah kepada mahluk-Nya yang lain, akal kita, iman dan islam kita, yang Allah tekah karuniakan kepada kita, jauh lebih banyak dan lebih besar dari sekedar permintaan kita untuk naik gaji, naik pangkat, minta jabatan dan lainnya……..”Kata Ki Bijak.

Tak terasa, air bening mengalir kepipi Maula, matanya memerah, nafasnya sedikit tersengal, Ki Bijak membiarkan muridnya untuk menumpahkan segenap rasa yang bergejolak didada Maula.

“Astaghfirullaaah…, astaghfirullah……..” rintih pelan terdengar dari mulut Maula.

Ki Bijak maklum dengan perasaan muridnya yang memang sensitif ketika mendengarkan wejangan-wejangannya,

“Masih ada kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri jika selama ini kita masih banyak mengeluh, jika selama ini kita selalu saja menggerutu dan khawatir dan tidak yakin dengan janji Allah, bersegerlah bertobat, mumpung kita masih diberi waktu……….” Kata Ki Bijak.

Tak terdengar jawaban apapun dari Maula, hanya isaknya terdengar lebih menyesakan, air matanya berlinang, bersyukur bahwa Allah mengingatkannya melalui lisan Ki Bijak Gurunya.

Wassalam ....

~ o ~

Semoga bermanfaat dan dapat diambil hikmahnya.

Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allailaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa atuubu Ilaik ....

Sumber : suarapensil.blogsome.com
READ MORE - Belajar dari Burung
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...