SELAMAT DATANG.


Ingin ikut menulis diblog ini, sertakan alamat email Anda.
Artikel Anda akan diupload di blog ini.
Terima Kasih telah berkunjung.

(Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, "Orang yang menyantuni janda dan orang miskin adalah bagaikan orang yang berjihad fi sabilillah bahkan seperti orang yang tidak pernah berhenti puasa dan bagun shalat malam."
(Bukhari - Muslim)
"


Tampilkan postingan dengan label Kisah Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Ulama. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Maret 2016

Syaikh Ahmad Fahmi Zamzam (Abu ‘Ali al-Banjari an-Nadwi al-Maliki) Hafizahullahu Taala

🌺 Latar Belakang Ringkas 🌺

Shaykh Ahmad Fahmi Zamzam
(Abu ‘Ali al-Banjari an-Nadwi al-Maliki) Hafizahullahu Taala

Ahmad Fahmi bin Zamzam atau nama pena-nya Abu ‘Ali al-Banjari an-Nadwi al-Maliki dilahirkan di Amuntai dari suku Banjar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Borneo), Indonesia pada 9 Jun 1959M. Pada mulanya beliau menuntut ilmu di daerah Amuntai, kemudian melanjutkan pelajarannya ke Madrasah Darus-Salam Martapura sampai ke tingkatan ‘Aliyah (tertinggi). Kemudian beliau melanjutkan pelajaran di Yayasan Pesantren Islam, Bangil, Jawa Timur sebelum berangkat ke Uttar Pradesh, India pada tahun 1980M dan berguru kepada Samahatus-Shaykh Abul Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi rah. (wafat 1420H/1999M) sehingga awal tahun 1984M. Pada pertengahan tahun 1984, beliau mula berkhidmat di Maahad Tarbiyah Islamiyah, Derang, Pokok Sena, Kedah Darul Aman sehingga hari ini.

Pada tahun 1408H/1988M, beliau sempat berguru dengan Shaykh Muhammad Yasin al-Fadani rah. (wafat 1410H/1990M) di Makkah al-Mukarramah dan mendapatkan “Ijazah Ammah”. Beliau dianugerahkan gelaran al-Maliki daripada guru beliau yang sangat mengasihi dan dikasihi beliau, iaitu Al Habib Sayyid Dr. Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki rah. (wafat 1425H/2004M), seorang ulama’ besar dari Makkah al-Mukarramah pada bulan Syawwal 1423H/2002M.

Pada tahun 2001M, beliau telah mendirikan sebuah pondok pesantren di Muara Teweh, Kalimantan Tengah, Indonesia yang seterusnya diikuti dengan sebuah pondok pesantren di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia pada tahun 2003M. Sehingga kini beliau telah menghasilkan lebih daripada 15 buah buku, baik karangan beliau sendiri, terjemahan, ataupun tahqiq kitab-kitab karangan ulama’ silam Nusantara seperti kitab karangan Shaykh Abdus Samad al-Falimbani (KItab Sairus Salikin – 4 Jilid) dan Hidayatus Salikin. Manakala kitab-kitab yang telah beliau terjemahkan termasuklah kitab Bidayatul Hidayah dan Ayyuhal Walad karangan Hujjatul Islam Imam al-Ghazali rah., Bustanul Arifin karangan Imam an-Nawawi rah. dan Lamiyah Ibnu Wardi karangan Imam Zainuddin Ibnul Wardi al-Kindi rah. Di antara buku-buku karya beliau ialah:

1. Empat Puluh Hadits Peristiwa Akhir Zaman;
2. Empat Puluh Hadits Penawar Hati;
3. Empat Puluh Hadits Kelebihan Ilmu dan Ulama;
4. Empat Puluh Hadits Akhlak Mulia;
5. Terjemahan Bidayatul Hidayah;
6. Terjemahan Ayyuhal Walad (Al-Ghazali);
7. Terjemahan Lamiyah Ibnu Wardi;
8. Terjemahan Bustanul Arifin;
9. Terjemahan Qasidah Burdah Imam al-Busiri;
10. Kiamat Hampir Tiba;
11. Riwayat Hidup Sayyid Abul Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi;
12. Riwayat Hidup Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki al-Hasani;
13. Tahqiq Sairus Salikin;
14. Tahqiq Hidayatus Salikin
15. Bekal Akhirat, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Wallahualam

via: Biografi Ulama' Ahli Sunnah Wal Jamaah Asyairah Maturidiyah

PLEASE SHARE..
INSYAALLAH

READ MORE - Syaikh Ahmad Fahmi Zamzam (Abu ‘Ali al-Banjari an-Nadwi al-Maliki) Hafizahullahu Taala

Rabu, 25 Juli 2012

Imam Abu Hanifah berdebat dengan Ilmuwan Atheis


Pada Zaman Imam Abu Hanifah hiduplah seorang ilmuwan besar, atheis dari kalangan bangsa Romawi. Pada suatu hari, Ilmuwan Atheis tersebut berniat untuk mengadu kemampuan berfikir dan keluasan ilmu dengan ulama-ulama Islam. Dia hendak menjatuhkan ulama Islam dengan beradu argumentasi.

Setelah melihat sudah banyak manusia yang berkumpul di dalam masjid, orang kafir itu naik ke atas mimbar. Dia menantang siapa saja yang mau berdebat dengannya.

Dan diantara shaf-shaf masjid bangunlah seorang laki-laki muda, dialah Abu Hanifah dan ketika sudah berada dekat di depan mimbar, dia berkata : “Inilah saya, hendak bertukar fikiran dengan tuan“.
Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap merendahkan diri karena usianya yang masih muda. Abu Hanifah berkata, “Sekarang apa yang akan kita perdebatkan!“.
Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, dia lalu memulai pertanyaannya :

Atheis : Pada tahun berapakah Tuhan-mu dilahirkan?
Abu Hanifah : Allah berfirman “Dia (Allah) tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan”.
Atheis : Masuk akalkah bila dikatakan bahwa Allah adalah yang pertama dan tidak ada sesuatu sebelum-Nya?, pada tahun berapa Dia ada?
Abu Hanifah : Dia (Allah) ada sebelum adanya sesuatu.
Atheis : Kami mohon di Pada Zaman Imam Abu Hanifah hiduplah seorang ilmuwan besar, atheis dari kalangan bangsa Romawi. Pada suatu hari, Ilmuwan Atheis tersebut berniat untuk mengadu kemampuan berfikir dan keluasan ilmu dengan ulama-ulama Islam. Dia hendak menjatuhkan ulama Islam dengan beradu argumentasi.

Setelah melihat sudah banyak manusia yang berkumpul di dalam masjid, orang kafir itu naik ke atas mimbar. Dia menantang siapa saja yang mau berdebat dengannya.
Dan diantara shaf-shaf masjid bangunlah seorang laki-laki muda, dialah Abu Hanifah dan ketika sudah berada dekat di depan mimbar, dia berkata : “Inilah saya, hendak bertukar fikiran dengan tuan“.
Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap merendahkan diri karena usianya yang masih muda. Abu Hanifah berkata, “Sekarang apa yang akan kita perdebatkan!“.
Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, dia lalu memulai pertanyaannya :

Atheis : Pada tahun berapakah Tuhan-mu dilahirkan?
Abu Hanifah : Allah berfirman “Dia (Allah) tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan”.
Atheis : Masuk akalkah bila dikatakan bahwa Allah adalah yang pertama dan tidak ada sesuatu sebelum-Nya?, pada tahun berapa Dia ada?
Abu Hanifah : Dia (Allah) ada sebelum adanya sesuatu.
Atheis : Kami mohon diberikan contoh yang lebih jelas dari kenyataan!
Abu Hanifah : Tahukah tuan tentang perhitungan?
Atheis : Ya.
Abu Hanifah : Angka berapa sebelum angka satu?
Atheis : Tidak ada angka (nol).
Abu Hanifah : Kalau sebelum angka satu tidak ada angka lain yang mendahuluinya, kenapa tuan heran kalau sebelum Allah Yang Maha satu yang hakiki tidak ada yang mendahului-Nya?
Atheis : Dimanakah Tuhan-mu berada sekarang?, sesuatu yang ada pasti ada tempatnya.
Abu Hanifah : Tahukah tuan bagaimana bentuk susu?, Apakah di dalam susu itu keju?
Atheis : Ya, sudah tentu.
Abu Hanifah : Tolong perlihatkan kepadaku di mana, di bagian mana tempatnya keju itu sekarang?
Atheis : Tak ada tempat yang khusus. Keju itu menyeluruh meliputi dan bercampur dengan susu di seluruh bagian.
Abu Hanifah : Kalau keju makhluk itu tidak ada tempat khusus dalam susu tersebut, apakah layak tuan meminta kepadaku untuk menetapkan tempat Allah Ta’ala?, Dia tidak bertempat dan tidak ditempatkan!
Atheis :Tunjukkan kepada kami dzat Tuhan-mu, apakah ia benda padat seperti besi, atau benda cair seperti air, atau menguap seperti gas?
Abu Hanifah : Pernahkan tuan mendampingi orang sakit yang akan meninggal?
Atheis :Ya, pernah.
Abu Hanifah : Sebelum ia meninggal, sebelumnya dia bisa berbicara dengan tuan dan menggerak-gerakan anggota tubuhnya. Lalu tiba-tiba diam tak bergerak, apa yang menimbulkan perubahan itu?
Atheis : Karena rohnya telah meninggalkan tubuhnya.
Abu Hanifah : Apakah waktu keluarnya roh itu tuan masih ada disana?
Atheis : Ya, masih ada.
Abu Hanifah: Ceritakanlah kepadaku, apakah rohnya itu benda padat seperti besi, atau cair seperti air atau menguap seperti gas?
Atheis : Entahlah, kami tidak tahu.
Abu Hanifah : Kalau tuan tidak boleh mengetahui bagaimana dzat maupun bentuk roh yang hanya sebuah makhluk, bagaimana tuan boleh memaksaku untuk mengutarakan dzat Allah Ta’ala?!!
Atheis : Ke arah manakah Allah sekarang menghadapkan wajahnya? Sebab segala sesuatu pasti mempunyai arah?
Abu Hanifah : Jika tuan menyalakan lampu di dalam gelap malam, ke arah manakah sinar lampu itu menghadap?
Atheis : Sinarnya menghadap ke seluruh arah dan penjuru.
Abu Hanifah : Kalau demikian halnya dengan lampu yang cuma buatan itu, bagaimana dengan Allah Ta’ala Pencipta langit dan bumi, sebab Dia nur cahaya langit dan bumi.
Atheis : Kalau ada orang masuk ke surga itu ada awalnya, kenapa tidak ada akhirnya? Kenapa di surga kekal selamanya?
Abu Hanifah : Perhitungan angka pun ada awalnya tetapi tidak ada akhirnya.
Atheis : Bagaimana kita boleh makan dan minum di surga tanpa buang air kecil dan besar?
Abu Hanifah : Tuan sudah mempraktekkanya ketika tuan ada di perut ibu tuan. Hidup dan makan minum selama sembilan bulan, akan tetapi tidak pernah buang air kecil dan besar disana. Baru kita melakukan dua hajat tersebut setelah keluar beberapa saat ke dunia.
Atheis : Bagaimana kebaikan surga akan bertambah dan tidak akan habis-habisnya jika dinafkahkan?
Abu Hanifah : Allah juga menciptakan sesuatu di dunia, yang bila dinafkahkan malah bertambah banyak, seperti ilmu. Semakin diberikan (disebarkan) ilmu kita semakin berkembang (bertambah) dan tidak berkurang.
“Ya! kalau segala sesuatu sudah ditakdirkan sebelum diciptakan, apa yang sedang Allah kerjakan sekarang?” tanya Atheis.
“Tuan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dari atas mimbar, sedangkan saya menjawabnya dari atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya mohon tuan turun dari atas mimbar dan saya akan menjawabnya di tempat tuan”, pinta Abu Hanifah.

Ilmuwan kafir itu turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas.

“Baiklah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa pekerjaan Allah sekarang?”.

Ilmuwan kafir mengangguk.

“Ada pekerjaan-Nya yang dijelaskan dan ada pula yang tidak dijelaskan. Pekerjaan-Nya sekarang ialah bahwa apabila di atas mimbar sedang berdiri seorang kafir yang tidak hak seperti tuan, Dia akan menurunkannya seperti sekarang, sedangkan apabila ada seorang mukmin di lantai yang berhak, dengan segera itu pula Dia akan mengangkatnya ke atas mimbar, demikian pekerjaan Allah setiap waktu”.

Para hadirin puas dengan jawaban yang diberikan oleh Abu Hanifah dan begitu pula dengan ilmuwan besar atheis tersebut dia mengakui kecerdikan dan keluasan ilmu yang dimiliki Abu Hanifah.
READ MORE - Imam Abu Hanifah berdebat dengan Ilmuwan Atheis

Selasa, 03 April 2012

KISAH TRAGIS SEORANG BARSHISHO

ASSALAAMU ALAIKUM.

Wahai pembaca setia alfisyachri.blogspot.com yg selalu menanti harapan dalam kebaikan
Ingat.....kebaikan itu bukan dinantikan, tapi diraih dengan tuntunan agama.
Kebaikan menuntun kepada kemuliaan.
menjaga dan mempertahankan kemuliaan , jauh lebih sulit dari pada meraihnya.
Maka hari ini akan diceritakan tentang kehidupan Barshisho yang hidup dizaman sebelum Arrosul Saw.
Yang mati tragis dalam kekufuran, padahal hidupnya dahulu penuh dengan kemuliaan .
Sadarilah hal itu wahai saudaraku......
Kemuliaan bisa saja tercabut jika anda tidak bisa memeliharanya .

Kisah tersebut tertoreh dalam tafsir-tafsir Alqur'an dan Hadist Rasulullah Saw.
Jika anda suka dengan kisahnya, silahkan mengetik Alhamdu Lillah.
Jika tangan anda sibuk dengan pekerjaan yang lainnya cukup dengan menge LIKE nya.
Ada Hadist yg panjang mengenai dialog antara Nabi Saw dgn Iblis la'natulloh alahi,
ana ambil sedikit dialog tsb yaitu yg artinya :
" Apakah kau tidak tahu Hai Muhammad, bhw Barshisho si pendeta Ikhlas kpd Alloh 70 th, sampai-sampai dgn doanya Alloh Sembuhkan orang2 yg sakit,
maka tidak aku biarkan hingga dia berzina dan membunuh dan menjadi kafir, dialah yg Alloh sebutkan dlm Alqur'an dgn firmannya : " Seperti perumpamaan Syetan ketika berkata kpd manusia : Kafirlah..!, begitu dia kafir, syetan berkata : aku lepas dr pd kamu, karena aku takut kpd Alloh tuhan sekalian alam ".

Dalam Alqur'an pun disebutkan di Suroh Alhasyr ayat 16.
Dlm kitab Haasyiah Shoowi tafsir Alqur'an dr kitab Tafsir Jalaalain hal 248 pun disebutkan bhw manusia yg kafir itu adalah Barshisho.
Kemudian dlm kitab Durrotun Naashihiin hal 215 dikisahkan dgn lengkap kisah barshisho ini.

Mari kita simak dan mengambil pelajaran dr kisahnya, agar kita selalu waspada dr tipu daya syaithon sekalipun kita dianggap wah oleh manusia.

Ikutilah kisahnya...
Adalah dizaman Bani Isroo'iil ada seorang laki2 yg tekun beribadah di tempat ibadahnya. Dia dikenal dgn nama Barshisho si ahli ibadah.
Doa2nya sangat manjur, byk masyarakat yg mendatanginya untuk berobat, dan nyata sekali kesembuhannya kpd org2 yg sakit dgn doanya yg mujarab.
Maka Iblis LA memangil para syaithon,
berkata Iblis: siapa yg bisa membuat fitnah dan menyesatkan si Barshisho..?
Saya kata Ifrit , saya akan membuat fitnah dan menyesatkannya, maka jika tdk aku bisa bisa, aku bukan lg golongan kalian.
Berkata Iblis LA : Ya kamu untuknya.

Maka berangkatlah Ifrit mendatangi seorang raja dr raja2 Bani Isro'il yg mempunyai putri yg cantik jelita yg sedang duduk bersama ayah bundanya dan saudara2nya.
Maka dibuat sakit oleh Ifrit.
Sehingga terkejut anggota keluarganya yg demikian itu, karena melihat sang Putri gila, dan itu terjadi berhari2.
Kemudian datanglah lg si Ifrit dgn bentuk Manusia.
Dia berkata kpd keluarganya : jika kalian ingin menghendaki putri ini sembuh, pergilah kalian bersama putri mu kpd Barshisho yg bisa menyembuhkan dan doa2nya sangat manjur.
Maka pergilah mereka kpd nya,
Sembuhlah putri raja tsb.
Tp ketika kembali ke istana , kambuh kembali.
Maka sang Ifrit menyarankan agar supaya sembuh total , harus tinggal di pendopo Barshisho untuk beberapa hari.

Maka pergilah mereka kembali membawa putri kesayangannya kerumah Barshisho.
Sebenarnya Barshisho menolak kehadiran wanita dirumahnya.tp Krn anak putri raja, mau kata apa.
Maka tinggal sang putri seorang diri ditempat yg telah disediakan. Adapun Barshisho tetap ditempat ibadahnya untuk sholat dan selalu puasa.
Maka waktu dtg makan, diletakkan hidangan didpan pintu kamar putri tsb, tanpa bertemu dgnnya, sehingga berhari2 lamanya.

Ingat Sahabat Syaithon tak akan diam dgn hal ini..
Justru itulah rencana syaithon kpd Barshisho yg ahli ibadah yg doa2nya manjur sekali.
Ingat syaithon senang mewas-waskan hati.

Begitulah Barshisho yg sedang diwas2kan hatinya.
Dia berpikir kasihan kpd wanita tsb yg hanya sendirian tidak ada yg diajak bicara.
Maka mulai lah Barshisho bersikap lebih berani dgn mengantar makanan untuk putri tsb dgn langsung bertemu.
Maka dilihatlah oleh Barshisho akan putri raja itu , yg mana dia belum pernah melihat wanita secantik itu.
Semakin hari semakin erat sehingga terlena lah 2 insan berbeda jenis atas nama cinta.
Maka mulailah Ifrit ini mewaswaskan hati dan fikiran Barshisho sehingga tak sabar yg pada akhirnya terjadi perZINAhan atas nama cinta.
Kemudian hamil lah sang putri ini,
kemudian hatinya dibisikan oleh Ifrit dgn katanya:
kamu telah menghamilinya, pasti kamu tdk akan selamat dr kemarahan raja dgn apa yg kamu telah lakukan,
kecuali kamu bunuh dan kubur dia dibawah tempat ibadahmu, jika ditanyakan keluarganya, katakan bhw putri wafat krn sakit, pasti mereka percaya kpdmu krn kamu terkenal ahli ibadah.
Karena kegalauan dan ketakutannya, maka dibunuh lah sang putri raja itu yg pernah dizinahinya.
Maka datanglah sang raja beserta punggawanya untuk menanyakan hal ihwal putrinya.
Maka berkata Barshisho bhw putrinya telah wafat.
Mereka percaya kemudian mereka kembali lagi ke istananya.
Maka berangkat pula si Ifrit untuk menemui sang raja,
seraya berkata :
..
Sesungguhnya Barshisho telah berdusta, dia telah menghamili putrimu, manakala dia ketakutan rahasianya terbongkar maka dia bunuh putrimu, silahkan kamu bongkar kuburannya diatas tempat ibadah nya.

Maka kembali lagi Raja dgn pasukannya kerumah Barshisho dgn serta menggali kuburan putri kesayangannya diatas tempat ibadah Barshisho.
Terkejut histeris didapati putrinya yg sedang hamil terbujur kaku menjadi mayat dgn luka sembelihan .
Kemudian para pengawal raja menangkap Barshisho dan menyalibnya.
Ketika dlm ketakutan dengan keadaan yg tersalib , maka datanglah Ifrit seraya berkata :
Aku akan menyelamatkan dan menolong mu asal kamu mau sujud sekali saja kepadaku,
menjawab Barshisho :
Bagaimana aku sujud kpdmu sedangkan aku dlm keadaan tersalib ini.
Jawab Ifrit :
Aku Ridho kpd mu cukup dgn mengedipkan matamu tanda bhw kamu sujud kpd ku.

Maka sujudlah Barshisho dgn isyarat kedipan matanya.
Maka Si Ifrit berkata :
Aku berlepas dr mu krn aku takut kpd Alloh Robbul Aa'lamiin.
Sebagaimana yg telah Alloh jelaskan dlm Alqur'an yg mulia.

Maka detik itu juga mati Barshisho dlm keadaan tidak beriman lg kepada Alloh yg mana dulu tlah disembahnya selama berpuluh2 tahun.
Krn hilangnya keikhlasan beribadah dr jerat2 syaithon yg mempergunakan wanita sbg tali temali nya.

 
Wahai sahabatku ambillah kisah nyata ini sbg pelajaran berharga.
Tidak lantas anda yg sudah hebat beribadah kemudian tidak lg diperdaya syaithon.
Justru semakin anda tinggi semakin keras godaan yg menimpa anda.
Maka penawarnya adalah dgn selalu menuntut ilmu sampai wafat.
Jgn merasa besar sudah tdk mau lg duduk dimajlis ilmu.
Ana pribadi masih bodoh masih senang duduk mengaji kpd guru2 ana atau majlis2 yg membuka pengajian ilmu Syariat.
Skarang anda lihat jika sudah hebat seorg guru dgn pakaian dan gayanya pasti anda jarang lht bahkan sama sekali tidak ada dipengajian2 guru2 besar.
Kenapa..?
Krn malu jika dtg ketempat pengajian pasti ada jama'ahnya yg juga duduk bersamanya.
Nanti apa kata dunia hehehe.

Ana hanya menyampaikan apa yg ana dpt dr Sayyidil Walid Alqutb Ra.
Byknya guru2 yg merasa sudah besar tdk lg mengaji kpd beliau.

Ketauhilah wahai sahabatku..
Padahal saat itu jakarta bogor tanggerang bekasi sampai sejawa , tidak ada guru yg termasuk paling Alim yg termasuk paling tua selain beliau, khususnya Jakarta.
Tp mana batang hidung mereka pada saat itu.

Hati2 waktu akan membinasakan guru2 pembohong.
Ilmunya tdk lg berkah, Jama'ah nya tdk menjadi semakin baik.
Percaya atau tidak ..
Silahkan..
Tp ingat Agama islam yg murni tak akan bisa dibohongi.

Seandainya Barshisho berani bertanggung jawab dgn perbuatannya, mungkin akan lain ceritanya.
Maka jadi lah manusia yg berani bertanggung jawab.
Jika salah minta maaflah kpd Alloh dan Manusia yg anda zholimi.
Jika benar jgn takut untuk mengatakan kebenaran anda kpd publik jika anda difitnah.
Itulah sifat Rosul Saw yg tegas dlm mengambil sikap.

Mari hadiri pengajian Ilmu Syariat.
Agar tdk seperti Barshisho Yg cuma pandai Ibadah dan Dzikir .
Sehingga tdk mengerti tipu daya syaithon dlm ibadah.
Itulah ghurur.
Hati2 byk guru2 ghurur.

Musaddeq , lia edan dsb nya hanya pintar berdzikir tanpa pernah duduk dimajlis ilmu Syariat, sehingga dibisikan hatinya oleh Syaithon yg mengaku tuhan atau semacamnya, yg akhirnya menjadikan diri mengaku Nabi, Jibril , ataupun wali.
Tp kenyataan dilapangan menyalahi Syariat2 Rosululloh Saw.
Tinggalkan org2 yg demikian skalipun kata2nya semanis madu.

 

READ MORE - KISAH TRAGIS SEORANG BARSHISHO

Rabu, 14 Maret 2012

Syech Bin Baz dan seorang Pencuri


Salah seorang murid Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- menceritakan kisah ini kepada-ku (penulis kisah ini-pen). Dia berkata : Pada salah satu kajian Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah di Masjidil Haram, salah seorang murid beliau bertanya tentang sebuah masalah yang didalamnya ada syubhat, serta pendapat dari Syaikh Bin Baz rahimahullah tentang masalah tersebut. maka Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab pertanyaan penanya serta memuji Syaikh Bin Baz rahimahullah. Ditengah-tengah mendengar kajian, tiba-tiba ada seorang laki-laki dengan jarak kira-kira 30 orang dari arah sampingku kedua matanya mengalirkan air mata dengan deras, dan suara tangisannya pun keras hingga para murid pun mengetahuinya.

Di saat Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah selesai dari kajian, dan majelis sudah sepi aku melihat kepada pemuda yang tadi menangis. Ternyata dia dalam keadaan sedih, dan bersamanya sebuah mushhaf. Aku pun lebih mendekat hingga kemudian aku bertanya kepadanya setelah kuucapkan salam: “Bagaimana kabarmu wahai akhi (saudaraku), apa yang membuatmu menangis ?” Maka ia menjawab dengan bahasa yang mengharukan, “Jazakallahu khairan.” Akupun mengulangi sekali lagi, “Apa yang membuatmu menangis akhi…?”
Dia pun menjawab dengan tekanan suara yang haru, “Tidak apa-apa, sungguh aku telah ingat Syaikh Bin Baz rahimahullah, maka aku pun menangis.”
Kini menjadi jelas bagiku dari penuturannya bahwa dia dari Pakistan, sedang dia mengenakan pakaian orang Saudi.

Dia meneruskan keterangannya: “Dulu aku mempunyai sebuah kisah bersama Syaikh Bin Baz rahimahullah, yaitu sepuluh tahun yang lalu aku bekerja sebagai satpam pada salah satu pabrik batu bata di kota Thaif. Suatu ketika datang sebuah surat dari Pakistan kepadaku yang menyatakan bahwa ibuku dalam keadaan kritis, yang mengharuskan operasi untuk penanaman sebuah ginjal. Biaya operasi tersebut membutuhkan tujuh ribu Riyal Saudi (kurang lebih 17,5 juta Rupiah). Jika tidak segera dilaksanakan operasi dalam seminggu, bisa jadi dia akan meninggal. Sedangkan beliau sudah berusia lanjut.

Saat itu, aku tidak memiliki uang selain seribu Riyal, dan aku tidak mendapati orang yang mau memberi atau meminjami uang. Maka aku pun meminta kepada perusahaan untuk memberiku pinjaman. Mereka menolak. Aku menangis sepanjang hari. Dia adalah ibu yang telah merawatku, dan tidak tidur karena aku.
Pada situasi yang genting tersebut, aku memutuskan untuk mencuri pada salah satu rumah yang bersebelahan dengan perusahaan pada jam dua malam. Beberapa saat setelah aku melompati pagar rumah, aku tidak merasakan apa-apa kecuali para polisi tengah menangkap dan melemparkanku ke mobil mereka. Setelah itu dunia pun terasa menjadi gelap.

Tiba-tiba, sebelum shalat subuh para polisi mengembalikanku ke rumah yang telah kucuri. Mereka memasukkanku ke sebuah ruangan kemudian pergi. Tiba-tiba ada seorang pemuda yang menghidangkan makanan seraya berkata, “Makanlah, dengan membaca bismillah !” Aku pun tidak mempercayai yang tengah kualami.
Saat adzan shalat subuh, mereka berkata kepadaku, “Wudhu’lah untuk shalat!” Saat itu rasa takut masih menyelimutiku. Tiba-tiba datang seorang lelaki yang sudah lanjut usia dipapah salah seorang pemuda masuk menemuiku. Kemudian dia memegang tanganku dan mengucapkan salam kepadaku seraya berkata, “Apakah engkau sudah makan ?” Aku pun, ‘Ya, sudah.’ Kemudian dia memegang tangan kananku dan membawaku ke masjid bersamanya. Kami shalat subuh. Setelah itu aku melihat lelaki tua yang memegang tanganku tadi duduk diatas kursi di bagian depan masjid, sementara banyak jama’ah shalat dan banyak murid mengitarinya.

Kemudian Syaikh tersebut memulai berbicara menyampaikan sebuah kajian kepada mereka. Maka aku pun meletakkan tanganku diatas kepalaku karena malu dan takut.
Ya Allah…, apa yang telah kulakukan ? aku telah mencuri di rumah Syaikh Bin Baz ?!
Sebelumya aku telah mendengar nama beliau, dan beliau telah terkenal di negeri kami, Pakistan.
Setelah Syaikh Bin Baz rahimahullah selesai dari kajian, mereka membawaku ke rumah sekali lagi. Syaikh pun memegang tanganku, dan kami sarapan pagi dengan dihadiri oleh banyak pemuda. Syaikh mendudukkanku di sisi beliau. Ditengah makan beliau bertanya kepadaku, “Siapakah namamu ?” Kujawab, “Murtadho.”
Beliau bertanya lagi, “Mengapa engkau mencuri ?” Maka aku ceritakan kisah ibuku. Beliau berkata, “Baik, kami akan memberimu 9000 (sembilan ribu) Riyal.” Aku berkata kepada beliau, “Yang dibutuhkan hanya 7000 (tujuh ribu) Riyal.” Beliau menjawab, “Sisanya untukmu, tetapi jangan lagi mencuri wahai anakku.”
Aku mengambil uang tersebut, dan berterima kasih kepada beliau dan berdo’a untuk beliau. aku pergi ke Pakistan, lalu melakukan operasi untuk ibu. Alhamdulillah, beliau sembuh. Lima bulan setelah itu, aku kembali ke Saudi, dan langsung mencari keberadaan Syaikh Bin Baz rahimahullah. Aku pergi kerumah beliau. aku mengenali beliau dan beliau pun mengenaliku.

Kemudian beliau pun bertanya tentang ibuku. Aku berikan 1500 (seribu lima ratus) Riyal kepada beliau, dan beliau bertanya, “Apa ini ?” Kujawab, “Itu sisanya.” Maka beliau berkata, “Ini untukmu.”
Ku katakan, “Wahai Syaikh, saya memiliki permohonan kepada anda.” Maka beliau menjawab, “Apa itu wahai anakku ?” kujawab, “Aku ingin bekerja pada anda sebagai pembantu atau apa saja, aku berharap dari anda wahai Syaikh, janganlah menolak permohonan saya, mudah-mudahan Allah menjaga anda.” Maka beliau menjawab, “Baiklah.” Aku pun bekerja di rumah Syaikh hingga wafat beliau rahimahullah.
Selang beberapa waktu dari pekerjaanku di rumah Syaikh, salah seorang pemuda yang mulazamah kepada beliau memberitahuku tentang kisahku ketika aku melompat kerumah beliau hendak mencuri di rumah Syaikh. Dia berkata, “Sesungguhnya ketika engkau melompat ke dalam rumah, Syaikh Bin Baz saat itu sedang shalat malam, dan beliau mendengar sebuah suara di luar rumah. Maka beliau menekan bel yang beliau gunakan untuk membangunkan keluarga untuk shalat fardhu saja. Maka mereka terbangun semua sebelum waktunya. Mereka merasa heran dengan hal ini. Maka beliau memberi tahu bahwa beliau telah mendengar sebuah suara. Kemudian mereka memberi tahu salah seorang penjaga keamanan, lalu dia menghubungi polisi. Mereka datang dengan segera dan menangkapmu. Tatkala Syaikh mengetahui hal ini, beliau bertanya, ‘Kabar apa ?’ Mereka menjawab, ‘Seorang pencuri berusaha masuk, mereka sudah menangkap dan membawa ke kepolisian.’ Maka Syaikh pun berkata sambil marah, ‘Tidak, tidak, hadirkan dia sekarang dari kepolisian, dia tidak akan mencuri kecuali dia orang yang membutuhkan’.”
Maka di sinilah kisah tersebut berakhir. Aku katakan kepada pemuda tersebut, “Sungguh matahari sudah terbit, seluruh umat ini terasa berat, dan menangisi perpisahan dengan beliau rahimahullah. Berdirilah sekarang, marilah kita shalat dua rakaat dan berdo’a untuk Syaikh rahimahullah.” Mudah-mudahan Allah Ta’ala merahmati Syaikh Bin Baz dan Syaikh Ibnu Utsaimin, dan menempatkan keduanya di keluasan surga-Nya. Amiin…

Semoga kisah di atas bermanfaat. Sukron.

Sumber : "http://www.lautanilmu.com"
READ MORE - Syech Bin Baz dan seorang Pencuri
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...